-->

Cara Tanam Jagung Tumpangsari Dengan Tanaman Lainnya

Alat-alat yang digunakan dalam berusaha tani adalah cangkul, parang, golok, sabit, dan garpuh . Peralatan tersebut bisa diperoleh dengan cara membuat sendiri atau membeli, di toko alat-alat pertanian. Sarana produksi pemeliharaan berupa pupuk dan pestisida diperoleh dari kios pertanian, yaitu berupa pupuk anorganik dan pestisida. Pupuk organik yang berupa pupuk kandang di peroleh petani dari petani yang memelihara ternak atau membelinya dari luar daerah. Jenis pupuk yang digunakan terdiri dari Urea, SP-36, KCI dan Fhoska. Pestisida yang digunakan adalah furadan.


Tenaga kerja yang digunakan pada umumnya merupakan gabungan dari tenaga kerja dalam keluarga dan tenaga kerja luar keluarga, namun upah tetap diperhitungkan. Penggunaan tenaga kerja luar keluarga terutama diperlukan pada kegiatan-kegiatan tertentu yang memerlukan tenaga kerja banyak dan dirasa tidak mampu dikerjakan oleh tenaga kerja dalam keluarga sendiri antara lain pengolahan tanah, tanam, penyiangan, pemanenan, dan pengangkutan. Sedangkan kegiatan pemeliharaan seperti pengendalian hama penyakit, dan penjemuran biasanya dilakukan oleh tenaga kerja dalam keluarga. Sistem upah yang dilakukan adalah sistem upah harian.

PROSES PRODUKSI
Tanah merupakan salah satu kondisi agroekologis bagi tanaman, juga merupakan suatu bentuk ekosistem dinamis yang tersusun atas berbagai komponen penting seperti air, unsur mineral, bahan organik serta udara yang dibutuhkan tanaman. Berlangsungnya kegiatan proses produksi sangat tergantung pada kondisi lingkungan sekitar tanaman tersebut. Namun kadang kala ada petani yang tidak menggunakan aturan dalam berusahatani jagung terutama dalam proses produksi seperti penanaman, pemupukan dan pemeliharaan, dengan alasan terbatasnya dana, pada umumnya petani yang seperti ini adalah mereka yang tidak mempunyai hewan ternak dan kurangnya sumber informasi dari luar tentang budidaya jagung, sehingga kurang mendapatkan hasil yang maksimal.
Jagung termasuk tanaman berakar serabut yang terdiri dari tiga tipe akar, yaitu akar seminimal, akan adventif, dan akar udara. Akar seminimal tumbuh dari radikula dan embrio. Akar adventif disebut juga akar tunjang. Akar ini tumbuh dari buku paling bawah, yaitu sekitar 4 cm dibawah permukaan tanah.Sementara akar udara adalah akar yang keluar dari dua atau lebih buku terbawah dekat dengan permukaan tanah, dan keadaan air tanah. Adapun langkah-langkah dalam pembudidayaan jagung adalah sebagai berikut :

1. Pembibitan
a. Persyaratan Benih
b. Mutu benih dapat dilihat dari penampakkanya seperti kebernasan benih, warna benih, campuran fisik benih, dan perkecambahan benih. Secara umum, mutu benih jagung yang baik dicirikan beberapa hal berikut:
  • Daya tumbuh besar, lebih dari 90%.
  • Tidak tercampur benih/varietas lain.
  • Tidak mengandung kotoran.
  • Tidak tercemar hama dan penyakit.
  • Sehat dan bernas.
  • Tidak keriput, tetapi mengkilap.
Benih yang bercirikan yang demikian dapat diperoleh dari benih bersertifikat. Benih bersertifikat merupakan benih dari satu varietas yang diketahui identitas varietasnya, diproduksi dengan sistem pengawasan, dan memenuhi standar sertifikasi benih lapangan maupun laboratorium.

c. Penyiapan benih
Ketersediaan benih jagung dapat diperoleh dengan cara membeli dipasaran atau memproduksi sendiri dari hasil panen. Benih yang dipilih juga harus sesuai dengan kondisi lahan dan iklim setempat.

d. Perlakuan benih sebelum ditanam
Untuk satu hektar jagung diperlukan 15-25 kg benih. Sebelum ditanam, sebaiknya benih dicampur terlebih dahulu dengan fungisida seperti Benlate dan Ridomil. Terutama bila diduga akan ada serangan jamur. Dosis dan cara pencampurannya sesuai dalam kemasan fungisida. Sementara bila diduga akan ada serangan lalat bibit dan ulat agrotis, sebaiknya benih dimasukan kedalam lubang bersama-sama dengan insektisida butiran dan sistemik seperti Furadan 3G. dosis yang digunakan sebaiknya sesuai dengan kemasan.

2. Penyimpanan Benih
Tidak semua benih yang diperoleh habis ditanam dalam satu periode penanaman. Untuk itu, perlu dilakukan penyimpanan benih dengan baik agar dapat tahan lama dan mutunya tidak menurun.penyimpanan benih jagung relatif mudah dibandingkan dengan benih lainnya. Faktor yang paling penting diperhatikan saat penyimpanan adalah benih harus dalam kondisi kering dengan kadar air kurang dari 14%. Suhu ruangan penyimpanan yang dikehendaki sekitar 40 C (suhu lemari pendingin). Benih tersebut akan bertahan selama 2-3 tahun.

3. Pengolahan media tanam
Pengolahan tanah bertujuan untuk mempersiapkan tanah agar kondisinya baik serta mempersiapkan keadaan tanah yang gembur untuk perkembangan akar dan tumbuhan tanaman jagung yang diusahakan. Pada umumnya untuk Pengolahan tanah yang dilakukan petani ialah pengolahan tanah dengan urutan kegiatan, lahan dibersihkan lalu dibuat lubang tanam dengan cangkul sedalam 5 cm sampai 8 cm atau dengan sistem tanpa olah tanah (TOT) untuk menghemat biaya produksi, biaya tenaga kerja, dan waktu penanaman lebih cepat.

4. Jarak tanam
Pengaturan jarak tanam merupakan hal yang penting dalam usahatani jagung dengan tujuan memperoleh produksi yang tinggi. Jarak tanam erat kaitannya dengan keoptimuman jumlah tanaman per satuan luas dan meminimumkan kerugian pada nilai tanah serta biaya pemeliharaan. Penentuan jarak tanam berkaitan dengan penetuan pola tanam. Jarak tanam dapat dipengaruhi hasil, karena dengan populasi tanaman yang berbeda akan menghasilkan pertumbuhan tanaman yang berbeda pula. Peningkatan jarak tanam sampai tingkat kerapatan tertentu, hasil persatuan luas dapat meningkat.
Pengaturan jarak tanam merupakan salah satu cara untuk memanipulasi kerapatan tanaman. Petani di Desa Jayamandiri mengusahakan tanaman jagungnya dengan pola tanam tumpangsari. Alasannya karena dengan sistem ini apabila salah satu tanaman gagal panen maka dapat terganti dengan tanaman lain, yang sering ditumpangsarikan pada umumnya padi gogo dan singkong. dengan sistem barisan jarak tanam yang digunakan petani, antara petani berbeda, yaitu 100 Cm x 100 Cm dan 150 Cm x 100 Cm tergantung komoditi yang di tumpangsarikan adalah pada gambar sebagai berikut :

1. Jagung singkong jagung sinkong
2. Jagung padi singkong padi jagung padi sinkong
Menurut (Purwono dan Rudi Hartono, 2008). Beberapa pola tanam yang biasa diterapkan dalam penanaman jagung sebagai berikut :

a. Tumpangsari (intercropping)
Pola tumpangsari adalah penanaman lebih dari 1 tanaman dalam satu luasan tertentu dengan umur tanaman sama atau berbeda dan jarak tanam teratur.

b. Tumpang gilir (relay planting)
Pola tanam tumpang gilir dengan cara menyisipkan satu atau beberapa jenis tanaman selain tanaman pokok dalam waktu yang berbeda, tetapi ditanam sebelum tanaman pokok dipanen sehingga terjadi overlapping (tumpang tindih).

c. Tanam campuran (mixed cropiping)
Pola tanam campuran adalah penanaman tanaman yang terdiri dari beberapa tanaman dan tumbuhan tanpa diatur jarak tanam maupun larikannya. Dengan demikian, semua tanaman tercampur baur menjadi satu.

5. Teknik penanaman
Penanaman jagung dilakukan dengan cara di cangkul. Kedalaman lubang tanam tergantung kelembaban tanah. Kedalaman lubang tanam antara 5 cm sampai 10 cm, dua sampai 3 butir jagung di tanam di dalam lubang tanam, jika penanaman dilahan kering. Jagung dan padi gogo kerap ditumpangsarikan ditanam bersamaan. Ketika jagung berumur sebulan, ubi kayu di sisipkan. karena melakukan penanamanya di musim penghujan maka tidak dilakukan penyiraman.

6. Pemeliharaan

a. Penyulaman
Penyulaman dilakukan jika ada tanaman yang rusak atau mati, sehingga populasi tanaman yang ada dalam areal pertanaman yang diusahakan tetap. Penyulaman dilakukan sebelum tanaman berumur dua minggu setelah tanam.

b. Penyiangan dan Pembumbunan
Penyiangan merupakan salah satu tindakan agronomi dalam usahatani jagung dengan tujuan untuk meningkatkan produksi. Penyiangan adalah membuang atau membersihkan gulma yang tumbuh pada areal usahatani, sehingga tidak mengganggu pertumbuhan tanaman yang diusahakan. Penyiangan dilaksanakan hati-hati dan tidak terlalu dalam agar tidak merusak akar jagung yang dangkal.
Pembumbunan bertujuan untuk menutup akar yang terbuka dan menjaga tanaman tidak mudah roboh. Pembumbunan dilakukan dengan cara menaikkan atau menimbunkan tanah pada pokok tanaman.

c. Pemupukan
Tanaman jagung untuk pertumbuhannya memerlukan unsur hara yang cukup, sehingga apabila kekurangan salah satu unsur hara tersebut dapat mengganggu perkembangannya. Pemupukan harus dilakukan dengan tepat, baik jenis maupun takarannya. Dampak positif dari pemupukan yang tepat adalah : 1) mempertahankan keseimbangan zat-zat hara dalam tanah, yang berarti mempertahankan kesuburan tanah, dengan demikian unsur hara yang dibutuhkan tanaman dapat tercukupi, 2) meningkatkan daya ikat tanah dan meningkatkan kesuburan tanaman, sehingga dapat mengurangi erosi, meningkatkan daya ikat air, dan 3) meningkatkan produksi tanaman baik kualitas maupun kuantitas.
Pada usahatani jagung, pupuk yang digunakan oleh petani selain organik (pupuk kandang), juga pupuk anorganik, yaitu Urea, SP-36, KCI dan Fhoska. Usahatani jagung pipilan varietas hibrida Bisi-2 di Desa Jayamandiri, setiap petani menggunakan dosis pupuk yang berbeda. Untuk rata-rata luas lahan yang diusahakan (0.482 ha), pemberian pupuk Urea adalah 191,88 kg, SP-36 54.61 kg, KCI 55 kg, Fhoska 110.22 kg dan Furadan 0.37 kg. Pemberian pupuk ini jauh dibawah rekomendasi yang dianjurkan untuk pemupukan Varietas Hibrida Bisi-2, yaitu Urea adalah 300 kg/ha, SP-36 100 Kg/ha, KCI 50 Kg, dan penggunaan Fhoska yang sebenarnya sudah cukup dengan menggunakan Urea,SP-36 dan KCI, dan begitupun sebaliknya cukup dengan menggunakan Fhoska saja.
Pemberian pupuk dengan cara dibenamkan diantara tanaman. Waktu pemupukan dilakukan dua kali selama periode pertumbuhan. Pemupukan pertama biasa dilakukan antara umur tanaman 10 sampai 15 hari setelah tanam dan pemupukan kedua pada umur tanaman 40 hari setelah tanam. Hal ini jauh dengan rekomendasi pemberian pupuk jagung hibrida Bisi-2.

d. Pengendalian hama dan penyakit
Pengendali hama dan penyakit yang dilakukan oleh petani di Desa Jayamandiri adalah pada waktu saat tanam yaitu diberi furadan perlakuan ini supaya pada saat tumbuh tidak terserang hama dan penyakit sehingga mendapatkan hasil yang maksimal. Pengendalian hama dan penyakit selama proses produksi umumnya dilakukan dengan menerapkan prinsip Pengendalian Hama Terpadu (PHT), penggunaan pestisida hanya bila diperlukan. Pengendaliah hama dan penyakit selain penggunaan varietas yang tahan, juga memelihara sanitasi lingkungan, sehingga tenaga kerja untuk pengendalian hama dan penyakit dapat ditekan dan biaya untuk pestisida dapat dikurangi.
Usahatani yang menerapkan teknologi PHT dapat memelihara lingkungan dan mengurangi biaya produksi, sedangkan hasilnya tetap tinggi, sehingga pendapatan petani akan meningkat.

7. Panen dan pasca panen
Setelah proses penanaman dan pemeliharaan selanjutnaya adalah panen dan pascapanen. Kedua proses tahap akhir ini tidak kalah pentingnya dibandingkan dengan proses sebelumnya. Bila panen tidak dilakukan dengan benar maka kemungkinan akan kehilangan hasil sangat besar. Dengan proses panen dan Pascapanen yang baik dan benar akan mendukung peningkatan produksi jagung berkualitas yang diperoleh (Purwono dan Rudi Hartono,2008). Untuk itu, beberapa hal yang perlu diperhatikan sehubungan dengan penentuan waktu dan cara panen yang baik dijelaskan sebagai berikut:

1) Waktu panen
Hasil panen jagung tidak semua berupa jagung tua atau matang fisiologis, tergantung dari tujuan panen. Seperti halnya pada tanaman padi, tingkat kemasakan buah jagung juga dapat dibedakan dalam 4 tingkat yaitu masak susu, masak lunak, masak tua, dan masak kering. Bila tujuan penanaman adalah biji kering,panen dilakukan bila telah berbentuk lapisan hitam (black layer) pada dasar biji sekitar 103 hari setelah tanam.

2) Tanda-tanda jagung sudah siap panen
Tanda-tanda jagung siap panen adalah kelobot telah kering, berwarna kuning, apabila dikupas biji telah keras dan mengkilat. Apabila biji ditekan dengan kuku tidak meninggalkan bekas.
Selanjutnya penanganan pasca panen. Setelah dipetik dilakukan proses lanjutan diantaranya pengupasan dan pemipilan. Jagung dikupas pada saat masih menempel pada batang atau setelah pemetikan selesai. Pengupasan dilakukan untuk menurunkan kadar air di dalam tongkol dan kelembapan di sekitar biji tidak mengakibatkan kerusakan biji atau tumbuhnya cencawan. Setelah dikupas,jagung dilakukan pemipilan karena biji jagung melekat pada tongkolnya. Pemipilan dapat menggunakan tangan atau alat pemipil jagung bila jumlah produksinya cukup besar.

Lalu biji jagung dijemur sampai kering pengeringan dilakukan secara alami (tradisional), jagung dijemur di bawah sinar matahari sampai kadar airnya yang terkandung di dalam biji berkisar 14%. Akan tetapi ada sebagian petani yang kurang memperhatikan kadar air sehingga merusak harga jagung yang berpengaruh kepada penghasilan petani,yang kualitasnya lebih bagus, karena pada umumnya harga jagung ingin disamakan.
Pengemasan biasanya, biji yang dipilih secara seragam baik bentuk maupun ukurannya. Ada berbagai cara membersihkan atau memisahkan jagung dari campuran kotoran,yaitu dengan mesin atau manual. Setelah biji dibersihkan dari kotoran, dilakukan pengemasan sesuai tujuan pasar. Umumnya kemasan yang digunakan berupa karung dengan berat antara 50-70 kg.
LihatTutupKomentar